mencoba mengumpulkan kepingan rindu yang tak seharusnya..
menilainya lebih dari apa yang aku duga..
memeriksanya laksana amoeba yang merayap tak tampak oleh mata..
dan merasakannya seperti jiwa yang sedang meronta mengharap
cinta..
kamu fikir ini hal yang mudah..
meninggalkan atau memilikimu..
berdiam atau mendatangimu..
bicara atau diam termanggu..
aku sangat merasakan apapun saat
bersamamu..
aku sangat merasakan engkau ada di dekatku..
namun ketika kamu pergi..dalam rasa kehilangan itu...
jiwa ini sangat tersiksa..
dan aku merasakan jika aku makin menyayangimu...
karena perdebatan itu...
aku tak akan membiarkan perasaan ini liar...
seliar cinta yang masuk dan menusuk...
bagai ribuan anak panah yang mendatangi jantungku..
terasa sakit dan begitu ngilu..
apakah aku masih akan tetap membiarkanmu..
cinta atau sakit yang kurasa dalam hatiku..
entahlah...
ibu..
kenapa aku menyebutmu ibu..
kenapa aku memanggilmu ibu..
kenapa aku selalu ingin menamakanmu ibu…
Ibu..
karena engkau telah memberi yang tak dapat di beri oleh siapapun..
engkau mengasihi tak sebanding dengan kasih apapun..
engkau juga memberi
kehidupan, semangat serta
cinta tak seperti cinta siapapun..
Ibu..
aku masih sering melupakanmu..
aku terlalu sering berdosa padamu..
aku bahkan terlalu sering mangampangkan hidupku tanpamu..
Nyatanya aku masih tak bisa hidup tanpamu..
Ibu..
masih banyak kesempatan yang terlewat..
aku masih terlalu egois untuk berani tak membutuhkanmu..
masih sering aku memikirkan yang lain tanpa memperdulikanmu..
dan bahagia itu sering kutinggalkan demi urusan tak pentingku..
Ibu..
Maafkan aku..
maafkan semua khilafku..
maafkan atas keegoisan ini..
tapi aku tau, tanpa memintapun engkau telah memberi...
Saat pertama ku melihat dunia ini..
Ketika engkau melahirkan aku, ibu..
Ku menangis mengsyaratkan bahagiaku..
Melihat indahnya dunia ini..
Beribu do’a ku ucapkan
untukmu..
Agar jiwa dan ragamu sehat selalu..
Tak ada kata yang bisa kungkapkan..
Untuk mengucapkan terimakasih ibu..
Tanpamu ku tak mungkin ada..
Tanpamu ku tak mungkin bisa berjalan..
Melewati juta’an kisah hidup ini..
Dengan ketegaran yang kau ajarkan..
Ya allah ya tuhanku..
Berikanlah beliau umur yang panjang..
Kesehatan tubuh yang tak terbatas..
Agar aku bisa berbakti kepadanya..
Ibu.. oh.. ibu..
Jasamu akan selalu ku ingat..
Sampai kapanpun akan selalu ku ingat..
Hingga ragaku tak bernyawa..
Malam Minggu kelabu..
Malam minggu semu..
Oh.. Malam Minggu..
Apa pentingmu, apa pentingmu..
Aku bahkan tak mengerti bagaimana
kamu..
Spesialmu..
Keunikanmu..
keberadaanmu..
dan tentang kamu yang datang malam ini..
Andai ada bidadari yang menemaniku..
berjalan berdua..
menikmati malam ramainya lampu di pinggir kota..
kamu dan aku.. iya kita.. kita dalam satu ruang tanpa sekat..
Mataku ada dalam matamu..
Oh.. malam minggu… Indah
anganku..
Malam Minggu kelabu..
rangkaian kata yang tak biasa bagiku..
hanya sepi yang bertandang mengetuk hatiku…
hanya sendiri yang selalu menggedor pintu jiwaku..
malam Mingguku.. kelabu bak malam tanpa rembulan semu..
aku yang duduk sendiri, malam minggu ini kunikmati..
Mungkin ini hanya anganku
Terlalu berharap akan cintamu
Terobsesi kau akan mencintaiku
Sebesar aku mencintaimu
Namun ternyata....
Semua hanyalah anganku belaka
Pengharapanku yang sia-sia
Cintaku yang tak berbalas rasa
Aku bertepuk sebelah tangan
Cintaku tak kesampaian
Memilikimu hanyalah khayalan
Kini harapanku tinggalah kenangan

Jika ada seseorang yang bisa aku terima kekurangan dan kelebihannya, Itu dia ! !
Bayangan apa yang terjadi dengannya tidak jelas . . .
Seharusnya,
Seiring dengan berjalannya waktu rasa itu telah mati . . .
Entah itu terbawa angin,
Tersapu tawa atau bahkan mungkin terinjak duka yang menggema.
Ternyata tidak,
Rasa itu tetap saja ada . . .
Dan tinggal dengan nyaman, subur, mengelilingi sekujur tubuhku.
Perlu kau ketahui . . .
Semenjak itu rembulan adalah sahabatku,
Bintang adalah teman sejatiku . . .
Setelah sekian lamanya . . .
Tak seperti biasanya,
Aku mampu tersenyum lebar kembali . . .
Setelah aku melihat kau disana bahagia dan mengingat kembali tentangku.
Masih adakah aku dihatimu ?
Dihati yang bisa banyak menyimpan rahasia hasrat rasa . . .
Ditaman ini aku masih berdiri,
Memandangi setiap jengkal sudutnya . . .
Aku mempunyai kenangan yang sangat indah ditempat ini,
Semoga kita bertemu lagi dimasa depan yang tentu saja lebih baik lagi . . .
Meskipun ada orang-orang yang berbisik,
Dan ada pula yang berteriak bahwa aku gila bila terus menunggumu.
Tetapi bagiku tidak sama sekali . . .
Karena bukan hal yang mustahil,
Jika kita bisa bersama lagi.
Dalam suasana yang berbeda,
mimpi yang berbeda . . .
Dan cita-cita yang sempat tertunda.
Cinta...
Hadirmu kemana...
Apakah kau memang cinta
Saat ku berduka kau tak ada
Matahari...
Tunjukan kebenaran hati
Di manakah cinta sejati
Siapakah sahabat sejati
Aku sepi sendiri
Mega Kelabu....
Inikah kebenaranmu..
Kemana kasih langit biru
Di manakan ku sandarkan hatiku
Hujan...,
Derasmu siksa kesepian
Dinginmu mencari kerinduan
Di mana kekasih pujaan
Ku terpuruk diantara rerumputan
Jauh aku lewati...
Titian hatimu sulit ku mengerti
Mendamba cinta yang hampir mati
Menuai rindu resah ku sendiri
Berusaha mengertimu
Memahami setiap jengkal hidupmu
Ku tak mampu...,
Terjatuh lagi di hadapmu
Maaf ku tak bisa
Sungguh ku tersiksa
Menggapai bintangmu di angkasa
Meraih hatimu yang dingin tanpa cinta
Aku lelah terabaikan
Aku jenuh tercampakan
Matiku dalam harapan
Jemuku dalam penantian
Aku terdiam membisu
Merasakan sejuta cahaya yang tak lagi ada
Menikmati sepi hening gelap gulita
Menatap sirnanya kunang – kunang bersalju
Hati yang rapuh
Batin yang terbungkus amarah
Jiwa yang terdengar desah
Dan raga yang kini gelisah
Melukiskan malam dengan sejuta dendam
Hujan yang membawa ritik bernada merdu
Kini harus kembali menjadi serdadu
Berjuang melawan keadaan yang sedang bersedu
Hanya bintang malam yang bernyanyi
Hanya ada bintang yang akan mati
Perasaan bersalah mengguncang hati ini
Aku bagai patung yang hanya diam berdiri
Tak dapat menikmati esok pagi
Yang penuh dengan embun penyejuk hati
Kehidupan ini penuh rintangan
Satu kehidupan mati tidak jauh dari angan
Kesalahan tidak untuk berhentinya kehidupan
Seorang kuat karena kesalahan dan penderitaan
Dapat hidup melawan rintangan
Semua angan
Semua kenangan
Bagaikan indahnya kupu – kupu beterbangan
Burung senja pula yang menyanyikan lagu tentang keindahan..
damai..
sungguh damai..
ketika aku menari bersama senja..
perlahan aku lelah dgn tarian keindahan..
aku rebahkan tubuhku..
tenggelam dalam kasur rumput yang hijau..
dan sejenak aku mengatur nafasku.
deguban jantungku yg seirama nyanyian keindahan..
aku merasa damai..
sedamai mentari pagi..
saat itulah aku ingin sebuah masa..
saat itulah aku ingin sebuah waktu..
tak ingin sendiri menari dalam sebuah keindahan..
tak ingin sendiri merasakan sebuah keindahan..
aku ingin seseorang tahu keindahan ini..
aku ingin seseorang pula menari bersamaku dalam keindahan..
namun kuyakinkan diriku..
keindahan hadir kala hati risau..
namun kunyatakan diriku..
menari sendiri dalam keindahan itu hanya secuil kebahagiaan..
Kembali aku membuka mata..
aku melihat awan serupa malaikat..
aku hanya bisa tersenyum kala melihat itu..
aku hanya bisa menangis bahagia kala merasakan damai ini..
aku hanya bisa tertawa saat aku sadar akan kesendirian ini..
terhenyak aku melihat pasangan kupu-kupu pelangi melintasiku..
membawa lebih sekedar pertanyaan dalam benakku..
membuatku iri melihat mereka..
mengindahkan pula perasaan ini..
masih dalam rebahan tubuhku dalam hamparan rumput yang hijau..
dan aku semakin aku ingin lelap tertidur dalam keindahan ini…
perlahan aku merasakan tangan yang memelukku..
hangat dan membuat jantungku berdegub kencang..
tak sedikitpun aku membuka mata ini..
dia yang memelukku..
dia yang terbaring disisiku..
memanggil namaku..
“Cakrawala.”
samar tapi pasti aku tahu suara itu..
samar tapi pasti aku tahu harum itu..
samar tapi pasti segera aku membuka mata ini dan menatap mata indahnya..
“kau yang kusebut Keindahan… hadir dalam lelapku.. tiadakah kesalahan..”
“kau yang kusebut Cakrawala.. tak ada kesalahan aku ingin membuatmu tersenyum..”
dan kusadari.
Dahulu kala,langit dan laut saling jatuh cinta. Mereka sama-sama saling menyukai satu sama lain. Saking sukanya laut terhadap langit, warna laut = langit.
Saking sukanya langit terhadap laut, warna langit = laut.
Setiap senja datang, si laut dengan lembut sekali membisikkan"aku cinta padamu" ke telinga langit. Setiap langit mendengar bisikan penuh cinta laut pun, langit tidakmenjawab apa-apa, hanya tersipu-sipu malu wajahnya semburat kemerahan.
Suatu hari, datang awan... Begitu melihat kecantikan si langit, awan seketika itu juga jatuh hati terhadap langit. Tentu saja langit hanya mencintai laut, setiap hari hanya melihat laut saja.
Awan sedih tapi tak putus asa, mencari cara dan akhirnya menemukan akal bulus. Awan mengembangkan dirinya sebesar mungkin dan menyusup ke tengah2 langit dan laut, menghalangi pandangan langit dan laut terhadap satu sama lain.
Laut merasa marah karena tidak bisa melihat langit, sehingga dengan gelombangnya laut berusaha menyibak awan yang mengganggu pandangannya. Tapi, tentu saja, tidak berhasil.
Lalu datanglah angin yang sejak dulu mengetahui hubungan laut dan langit. Angin merasa harus membantu mereka menyingkirkan awan yang mengganggu. Dengan tiupan keras dan kuat, angin meniup awan.
Awan terbagi-bagi menjadi banyak bagian, sehingga tidak bisa lagi melihatlangit dengan jelas, tidak bisa lagi berusaha mengungkapkan perasaan terhadap langit. Sehingga ketika merasa tersiksa dengan perasaan cinta terhadap langit, awan menangis sedih.
Hingga sekarang, kasih antara langit dan laut tidak terpisahkan. Kita juga bisa melihat di mana mereka menjalin kasih. Setiap memandang ke ujung laut, di mana ada 1 garis antara laut danlangit, di situlah mereka sedang memadu kasih .
saat smua kembali
tak ada kata yg pantas terucap
dmana hrus kucari sepatah kata harapan
aku bosan dengan makian
kesadaranku yg tlah hilang tlah kembali
saat aku terjatuh diantara kerikil" panas
aku jatuh untuk bangun
untuk ugkapkan kebenaran
dibawah bayang" hitam kuberlari
mengejar sesuatu yg mereka bilang tak pasti
aku lelah menangis,
kau yg seharusnya berada di posisiku
bagaimana rasanya menjadi seorang yg sempurna
hidup sebagai pecundang membuatku ingin selalu memutar kembali waktu
tp aku akan dapat merubah semuanya
semua terasa hampa dan tak berarti
tetes air hujan yg turun selalu menemani air mata yg kesepian ini
wktu berjalan sangat lamban begitu juga penderitaan yg tiada henti
angan" berterbangan seiring dengan kenangan" yg tlah hancur dan tak ada lg pilihan
tekanan ini akan selalu ada slama kita tidak menemukan 1 titik
suara hati ini selalu berteriak memohon untuk didengar
mengapa jl ini slalu panjang untuk di lewati
hati ini yg mewakili dr perasaan yg terpuruk
berharap dan berharap aku mampu lari sejauh mungkin untuk lepaskan ikatan yg kaubuat dan untuk dapatkan nafas baru
mimpi" indah hanya bisa membohongi semuanya
hati ini sudah tidak kuat menahan semua kenyataan yg pahit terhimpit sempit oleh jiwamu
udara terasa beracun,
mataku meredup hingga membuta,
khayalku terisap mati kepergianmu
by gading moore
"Nafsu, selalu mengejar dan memburu
setiap pelaku-pelaku, dalam kehidupan yang fana
dan semu"
-----------------------------------------------
kamilah anak alam semesta
merakit tiang dalam ilusi yang fana
merasuki di dalam setiap jiwa
sebagai perhiasan dan juga bencana
bagi setiap manusia sebagai Ciptaan-Nya
Lalu muncullah nafsu diri dari
dalam bumi dan menelan kemanusiaan.
Lalu dari sana nyala api,
Lalu dari sana bubuk mesiu,
Lalu dari sanalah darah.
Mereka datang memotong jiwa kasih kita
dan membunuh kasih sayang manusia
dan mengalirlah, darah-darah orang tak berdosa
Mengalir seadanya, seada-adanya darah sesama
lalu Lihatlah nafsu itu, dia datang sebagai tamu
Kemudian menjadi tuan rumah bagimu, Lalu
menjelma menjadi penguasa kejam bagi dirimu

Dialah raja sekaligus budakmu
Sebagaimana dia mengangkat kehormatanmu
Begitu pula dia menghancurkanmu
Bertekuk lutut, menjajahmu, memperkosamu
Menimbunmu, menghempaskanmu
Kedalam lembah kehinaanmu
mereka adalah serigala yang nantinya
akan disingkirkan serigala pula
Batu hendak digigit dan diludahi lidah api
Ular berbisa yang dibenci ular berbisa!
Wahai penguasa-penguasa
Wahai Pengkhianat bangsa karena nafsu
Rumah rakyatmu hancur, tengoklah
bangsa ini lebur, lihatlah
Dan dari setiap rumah yang hancur
bukan bunga yang mekar, tapi
memancar logam yang terbakar.
Dari setiap lubang bom di negeri ini
Tumbuh lagi kelak: Rakyat.
Dari setiap peluru kejahatan kelak
lahir sebuah tempat, suatu saat,
yang ditemukan di hatimu.
mereka akan kembali mengirimkan darah
darah rakyat yang bangkit menentangmu
membenamkanmu ke satu-satunya dalam
ombak kebanggaan dan pisau kelaparan!

Tapi engkau adalah anak alam semesta
Kaulah yang akan menentang nafsu itu
Engkau tidak akan masuk dalam perangkapnya
Tidak juga untuk dijinakkannya
Karena rumahmu bukanlah sebuah sangkar
Tapi tiang layar sebuah kapal
Untuk melayari menyebrangi lautan luas
Menuju negeri bahagia
Adakalanya engkau letih, merintih, tertatih
Tapi engkau tidak akan melipat sayap-sayapmu
Untuk dapat melewati pintu-pintumu
Tidak juga akan menundukkan kepalamu
Karena takut terantuk langit-langit
Tidak akan merendahkan dirimu
dalam lembah penderitaan
Tidak...!
Tidak seperti itu...
Engkau tidak akan menyerah
Karena engkau adalah anak alam semesta
Yang membentang sauh, melayari samudera lepas
Menuju keindahan menuntun hati
Betapa dambaku lembah menjadi jalan rayamu
Dan jalur hijau itu menjadi gerbangmu
Terangi jalan menyusuri Cahaya-MU
Menuju Taman Firdaus-MU
malam hening menyapa
aku menjelang doa
di hamparan sajadah ini
aku terisak merinduMU
aku lihat di sana
begitu banyak perempuan cahaya
rabiah - syaraffunnisa
yang bergegas menjelangMU
tapi aku KASIH
aku begitu fana dan berdosa
tanpa lelah aku panjati
hidayah, ampunan dan makrifatMU
limpahkanlah cahaya kasihMU
dalam kelimpahan rahmatMU
Dikala aku merindu
Ingin kutulis sejuta syair indah
Ingin rasanya aku berkisah
Tentang semua kekangenanku
Di saat ini seolah aku sulit mencari
Dermaga yang berairkan tinta emas
Dan pena antik untuk mengukirnya
Aku takut terdampar di pulau sana
Yang penuh dengan ketidakpastian
Di dalam kedinginan jiwaku
Kau hadir mendekap erat kalbuku
Dalam kesendirian nuraniku
Kau temani aku dengan kemesraan
Dalam kegalauan jiwaku
Kau hadir untuk menghiburku
Dalam kesepian malamku
Kau hadir dalam indahnya mimpiku
Tiada yang kupikirkan selama ini
Kecuali aku merasa berarti bersamamu
Kan kuayun langkahku ini
Bersama irama kerinduan
Kangen khan slalu menyelimuti hatiku
Tak ada sesuatu terindah untuku
Karena kau segala-galanya bagiku
Angin berbisik kepada embun
Malam sepi, dingin merinding
Di pucuk daun embun mengerling
Dahan merintih dalam resah
Tahukah kau malam...?, tentang sebuah rahasia
Dengarkah kau daun..? ,apa yang dibisikkan angin
Pedulikah kau rembulan..? ketika malam berteriak di kegelapan...
Dan ...
malam pun berteriak, menghempas kesunyian...
“akulah kegelapan...
Sunyi dimalam, kering disiang
Luluh, lemah, tubuh menggigil
Seperti daun kering dimusim kemarau
Seperti debu terhempas di padang pasir...
Hatiku ? apakah kau juga merasakan kesunyian ini .?
Apakah kau juga merenung seperti pikiran-pikiran liarku?
Bercerita tentang kegelapan..
Berbisik tentang kerinduan....
Terisak dalam kesunyian...
Menangis, menggugu , meratapi hari...”
Tahukah kau malam?
Tentang kerinduan sang musafir,
Sebuah oase di padang pasir
Seberkas sinar penerang kegelapan
Selarik cahaya penembus di ufuk timur
Dan....
Rembulanpun berbisik ...
Tertunduk lelah, tenggelam dalam resah
Ya, kita adalah sama...
Kita adalah saudara kembar duhai malam
Karena engkau membentangkan cakrawala
Dan aku membentangkan jiwaku
Duhai malam
Mari...marilah...
Kita bentangkan sayap-sayap kehidupan
Kita susuri jalan menyusuri cahaya
Hingga kelak kita bangga
Tidak tersia-sia sebagai perindu-perindu malam..